Segelintir dari cerita kehidupanku. Bukankah hidup ini terkadang mirip dengan cerita novel? Bedanya, kisah ini masih terus berlanjut dan terus berlanjut.. so, nikmati alur ceritanya kawan.. "PEZIARAHAN TUK MENJADI SEORANG DON CORLEONE"
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

TIDAK ADA JUDUL

Bisa dikatakan bahwa penilaian atas diri sendiri, sesungguhnya kita yang lebih tahu. Dari berbagai peristiwa hidup justru berbeda. Banyak pengalaman yang menunjukkan keletihan karena kesibukan hati dan pikiran untuk mempertontonkan berbagai perilaku yang terkadang bukan diri sendiri. Dan itu membuat tubuh dan jiwa capek. Capek karena selalu mencoba untuk menghasilkan penilaian baik menurut orang lain. Belum lagi “mata-mata” yang membuat kita muak dengan keberadaannya. Tentu tidak semua pengalaman-pengalaman itu tidak bermanfaat bagi perkembangan karakter. Di sisi lain, yang membuat seseorang bisa berkembang justru bukan penilaian yang dibuat orang lain. Melainkan ketika ia berusaha untuk terus merenungkan setiap pengalaman yang memuakkan itu dan akhirnya mengerti serta dapat memahami karakternya dalam berbagai keadaan, termasuk dalam keadaan disudutkan, dianggap remeh dan dianggap berpotensi merusak. Dari berbagai tekanan itu seseorang bisa belajar untuk menahan diri, menjaga sikap dan belajar melihat berbagai kondisi saat mengutarakan pendapat. Walaupun belum terlihat dampak yang luarbiasa tetapi usaha seperti itu akan dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik. Perubahan itu dapat dilihat ketika memperbandingkannya dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Seringkali pengalaman hanya tinggal pengalaman yang tidak bermakna. Hal itu bisa terjadi karena krisis perenungan. Pengalaman hanya dianggap sebagai keadaan yang memang harus terjadi tanpa berdampak pada perkembangan karakter. Ketika pengalaman tidak menyenangkan terjadi pada diri seseorang, ia hanya sibuk dengan amarahnya dan pertanyaan, “mengapa semua ini terjadi pada diri saya?” Ketika hanya disibukkan dengan keadaan yang seperti itu maka akan sulit menyingkapkan yang terselubung dibalik pengalaman yang tidak menyenangkan itu. Alhasil, adanya hanya mencari kambing hitam atau pun menyalahkan keadaan.

Belajar dari berbagai keadaan bahwa tujuan dan keputusan yang kita buat tidak bisa dipisahkan dari keberadaan maupun keterkaitan dengan orang lain. Campur tangan orang lain sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup. Bahkan terkesan yang menentukan adalah orang lain. Apakah memang itu sudah takdir semesta? Mungkin saja. Tetapi dari semuanya itu kita bisa melihat keterkaitan bukan hanya untuk merusak melainkan juga memberikan pertumbuhan yang baik. Pelajaran hidup dalam kehidupan bersama adalah penilaian dari diri sendiri bukanlah satu-satunya penilaian. Dari sanalah awal pelajaran tentang kehidupan dan kerendahan hati. Dalam sebuah komunitas dihadirkan ketentuan-ketentuan dan penilaian kualitas agar tujuan bersama bisa tercapai dengan baik. Walaupun kemungkinan meleset sangat rentan terjadi. Bukan untuk tujuan bersama melainkan untuk kepentingan segelintir orang yang merasa berkuasa. Terkadang keadaan seperti itu harus dijalani dengan iklas (bukan berarti tidak kritis). adakalanya kita diperhadapkan dengan berbagai kondisi dan situasi agar kita semakin terdidik, "kuat" serta tangguh. Ada pepatah klasik mengatakan, “pengalaman adalah guru yang baik”. Itu bukan hanya kata-kata kosong saja. Melalui pengalaman manusia dapat melihat yang terjadi dan belajar untuk lebih baik lagi. Bahkan para motivator sering mangatakan bahwa kegagalan bukanlah akhir dunia melainkan kesuksesan yang tertunda.

Dalam dunia pelayanan, pengalaman itu juga sangat penting. Sebagian orang mungkin merasa bahwa selama praktek-praktek di perkuliahan sudah menyuguhkan keaslian hidup dalam dunia pelayanan. Kenyataannya ada perbedaan. Mungkin karena waktu yang terbatas dan motivasi dapat membuat seseorang tidak melihat secara holistik dunia pelayanan. Ketika dalam waktu yang panjanglah kemungkinan “melihat” itu semakin terbuka. Disanalah kita bisa mengeluarkan potensi yang sesungguhnya. Dari sana jugalah kesadaran muncul sehingga mampu mengakui bahwa penilaian bukan hanya dari diri kita. Banyak faktor-faktor penentu yang lain. Dalam keadaan seperti itu dapat terlihat semakin jelas adanya perbedaan, penilaian sepihak, dan ketegangan penilaian. Dalam keadaan seperti itu juga kita bisa belajar lebih baik, tetapi tidak jarang seseorang jatuh pada penilaian orang lain sehingga dibentuk "menjadi lain", bukan dirinya. Diperhadapkan dengan penilaian orang lain yang sesuka hati menilainya tentu bukan pilihan kita. tenggelam pada penilaian orang lain dapat membuat kita menjadi "hamba" sebagian orang bukan lagi "hamba Tuhan". Dari semuanya itu, kita dapat belajar bahwa pengalaman itu baik. Sebab melalui berbagai pengalaman kita bisa semakin meningkatkan kualitas diri.

Tetap semangat menjalani setiap proses agar kita dapat bertumbuh dalam Kristus. Dengan perjuangan itu kita bisa melihat campur tangan Tuhan membentuk kita menjadi hambanya yang berkualitas dan berintegritas. Tidak usah merasa sendiri menjalani hidup ini. Kita bersama untuk bertumbuh. Hargailah setiap pengalaman sebagai bekalmu merenung. Di dalam sedihmu ingatlah bahwa nantinya engkau akan menjadi hamba yang tangguh dan dalam kebahagiaanmu, ingatlah bahwa itu adalah semangat yang membuatmu kuat untuk membimbing umatNya. Tuhan memberkati kalian yang bertekun dalam perjuangan.

Kamis, 24 April 2014

“Aku memanggilnya, Hawa”

Ada sebuah mitos Yunani yang berkisah tentang  dewa Chaos  yang memiliki keturunan Erebus (malam). Erebus memiliki keturunan yang bernama Takdir, Maut, Mimpi, gundah, Nemesis, Kepalsuan, Upaya, Usia, Cinta, Erinyes (pembalas dendam). Keluarga ini terlalu kejam untuk berprokreasi. Bagi mereka, keluarga tidak lebih dari medan pertempuran yang mematikan. Dewi perkawinan, Hera, menunjukkan bahwa hubungan yang paling mendasar dapat mengilhami emosi kejam membunuh. Hera diliputi oleh rasa bersalah, terror, dan ketakutan yang besar. Kehidupan keluarga mereka bagaikan mencicipi anggur baru, yang mestinya merupakan pengalaman yang menyenangkan, berubah menjadi festival kematian. Mereka saling menyakiti, saling menindas, dan “cinta terlarang”. Hidup mereka dipenuhi oleh amarah dan dendam. Satu dengan yang lain merasa paling kuat dan sombong. Sangat berbeda dengan kultus Sion, Yerusalem  yang merupakan kota “orang miskin”. Kemiskinan tidak berarti kekurangan materi. Lawan kata dari “miskin” bukanlah “kaya”. Lawan dari “miskin” adalah “sombong”. Saat mendaki Gunung Sion, mereka selalu berseru:

TUHAN, aku tidak tinggi hati,
Dan tidak memandang dengan sombong;
Aku tidak mengejar yang terlalu besar
Atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Sesungguhnya, aku telah menenangkan  dan mendiamkan jiwaku;
Seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Mazmur 131

Hawa, demikian aku memanggilnya. Aku tidak mengejar yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Tetapi dia, Hawa, memberikanku sebuah keajaiban yang tak pernah kusadari sebelumnya. Ia menenangkan jiwa yang dipenuhi keluarga Chaos. Menerobos ruang kepalsuan tradisi membuatku gundah. Ketenangan jiwa mengusik pikiranku. Keluar dari lingkaran kenyamanan membuatku menemukan sesuatu yang belum pernah kurasakan. Kutemukan angin segar yang selama ini kurindukan dalam hidupku. Namun, Aku menyebutnya cinta berduri. Sebab ia begitu indah untuk dirusak, begitu menyakitkan jika dinikmati. Berada dalam dilema antara kerinduan dan tradisi.  Bukankah hidup ini berada  dalam bayang-bayang yang seperti itu? Bukan, dia justru bagian dari Chaos itu. Cinta, ambisi, dan mimpi, merusak segala keindahan dan ketenangan jiwa. Kecerdasannya membuahkan ambisi tuk meraihnya. Kecantikannya bukan tubuhnya. Hasrat, ambisi, semangatnya  yang membuatku terkagum. Dengan begitu aku menyebutnya Cantik.

Aku tidak menyadari gerak-geriknya. Ia suka parasku. Aku tidak terlena. Aku begitu angkuh untuk ukuran lelaki. Keisenganku mengusik tuk mengutik yang dia impikan selama ini. Kena. Aku tidak tau apakah dia atau aku yang masuk perangkap. Bukan, aku yang tertangkap. Ia begitu lincah dan ahli memberikan serangan bertubi-tubi. Apa yang membuatnya begitu lincah? Aku menyebutnya Cinta. Cinta mematahkan segala kemungkinan dan ketidakmungkinan. Ia bisa berhayal setinggi Uranus. Akibatnya sangat fatal. Ia bisa menghasilkan lautan, sungai-sungai, perbukitan, dan pegunungan.

Aku menyebutnya Hawa, bukan tanpa makna. Ia begitu bermakna. Gerak-geriknya menjadi pembuktian bagiku bahwa ia mematahkan tembok dalam hatiku. Aku pasrah diselimuti kelincahannya. Hatiku begitu tentram. Ia sangat mampu mengisi kekosongan dalam diriku. Aku menyebutnya Kehampaan. Kehampaan dari tetesan kegesitan dan kecerdasan. Ia mengisinya penuh dengan keceriaan. Hawa adalah kecerdasan dan keceriaan. Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati? Bukan, melainkan dari ambisi dan kepasrahan. Ambisi menaklukkan menghasilkan ketidakberdayaan. Ketidak berdayaan bukan berarti kalah. Ketidakberdayaan adalah hasil dari perjuangan ambisi. Ia sanggup membius kerasnya hati. strategi ambisi adalah mencari ruang kosong. Ketika ruang kosong itu berhasil diraihnya, cinta akan tumbuh dan semakin mekar. Kepasrahan akan menjadi ketenangan batin yang tak terduga. Kepasrahan bukan berarti kalah. Aku pasrah sebab ruang kosong telah berisi kebahagiaan.

Begitulah aku menyebutnya Hawa. Sebelumnya, aku belum pernah menemukannya. Aku takut tertusuk durinya yang tajam. Tertusuk duri pada ruang kosong yang telah diisinya bukanlah kebahagiaan. Duri itu memiliki racun yang dapat menyebar keseluruh tubuh. Racun itu akan mengalir ke seluruh aliran darah, menggapai titik pedih. Aku menyebutnya air mata. Air mata akan mengalir tanpa komando. Sebab pedihnya bukan dimata. Pedihnya berasal dari ruang kosong yang tidak tahu di mana letaknya.