Segelintir dari cerita kehidupanku. Bukankah hidup ini terkadang mirip dengan cerita novel? Bedanya, kisah ini masih terus berlanjut dan terus berlanjut.. so, nikmati alur ceritanya kawan.. "PEZIARAHAN TUK MENJADI SEORANG DON CORLEONE"

Rabu, 03 April 2013

BERTANYA SEPERTI ANAK-ANAK


Di berbagai wilayah atau daerah, tuntunan (norma) untuk kepentingan bersama sudah ada sejak dulu. Tuntunan itu dianggap perlu agar kehidupan relasi dapat berjalan dengan baik. Dari kehidupan bersama itu lahirlah perenungan-perenungan tentang arti kehidupan dan yang seharusnya dilakukan manusia ketika menjalani hidup bersama. Perenungan itu bisa muncul dari kehidupan seseorang yang dihubungkan dengan kepentingan bersama, namun perenungan itu bisa juga muncul karena adanya tindak-tanduk kehidupan setiap individu yang merugikan kepentingan umum. Perenungan itu juga bisa muncul dikarenakan peradaban manusia semakin canggih yang menghantarkan manusia ke awal kehancuran karena arsitek dan teknologi senjata perang semakin canggih. Hal itu dapat membuat seseorang atau sekumpulan orang memikirkan cara agar kehancuran itu tidak berlanjut ke medan perang yang saling merugikan. 


Yesus hadir dalam kehidupan yang rupanya keadilan belum sepenuhnya bisa berjalan dengan baik. Yesus lahir pada masa kekaisaran romawi yang mungkin di pimpin oleh Kaisar Agustus (27 sM-14 M) tetapi ditangkap pada masa pemerintahan anaknya, Herodes antipas (4sM-39M: raja ¼ negeri Galilea). Palestina sebagai daerah kekuasaan kekaisaran romawi memerlukan pemimpin yang akhirnya jatuh ke tangan Herodes Agung (ia berkuasa dari tahun 37 SM – 4 SM). Kekuasaan itu diberikan oleh kekaisaran romawi mengingat ayah Herodes dulunya pernah membantu kekaisaran romawi untuk menguasai tempat itu. Pada zaman itu Bait Allah di Yerusalem dibangun kembali sehingga banyak orang dari berbagai daerah datang mengunjungi dan beribadat.

Pada masa kejayaan penguasa saat itu, Yesus tampil di depan publik untuk mengajak orang-orang peduli terhadap kepentingan umum demi terwujudnya keadilan. Yesus hadir membawa kabar baik bagi semua orang yaitu keselamatan dan damai sejahtera. Dengan sangat memahami konteks, Yesus mengajak orang-orang bukan sekedar bergelut dalam bidang keagamaan sebagai kewajiban melainkan kehidupan keagamaan itu hendaknya juga membawa dampak pada ketaatan kepada Allah yang esa (vertikal) dan juga menghadirkan keadilan bagi sesama (horizontal). Ketika Yesus dicobai oleh seorang ahli Taurat perihal hukum yang terutama, Yesus menjawab: “kasihilah Tuhan Allahmu dan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus menekankan keutamaan itu bukan hanya dalam hukum keagamaan melainkan juga harus terlihat dalam perbuatan. Ketika seorang muda kaya datang kepada Yesus dan bertanya perihal hidup yang kekal, dengan gagah anak muda itu mengatakan bahwa perintah itu sudah bisa ia turuti semuanya. Tetapi apa yang dikatakan Yesus sepertinya sangat menyinggung perasaannya. Yesus berkata: “jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dn berikanlah itu kepada orang-orang miskin…” Yesus ingin mengajarkan murid-muridnya bahwa lebih mudah melakukan perintah keagamaan dari pada melakukan yang baik bagi sesama. Artinya bahwa kesetiaan dalam keagamaan belum tentu sama ketika berbicara tentang keadilan bagi sesama. Disinilah letak hal yang menarik jika kebijaksanaan Yesus ini dihubungkan dengan kebijaksanaan Mo Tzu (sekitar 479-381), walaupun tidak terlalu dihubungkan ke arah vertikal. 

Filsuf ini memiliki nama pribadi Ti dan nama keluarganya Mo, yang tempat kelahirannya tidak dapat dipastikan. Mo Tzu adalah seorang pendiri mazhab Mo yang sangat tenar setelah zaman Confusius dan sepertinya tidak terlalu suka dengan padangan Confusius dan juga penganut Confusianisme. Menurutnya, pandangan tradisional Confusius tidak sesuai lagi dengan keadaan zamannya.  Sepertinya ketika Yesus perlu bersuara karena adanya ketimpangan sosial antara penguasa yang semain Berjaya dengan rakyat yang miskin, Mo Tzu juga tampil di zamannya ketika ia melihat adanya “ketidakjujuran” dari pendahulunya yang mengagungkan kalangan aristokrat yang membawa kesenjangan antara “kaum atas” dan “kaum bawah”. 
Ketika berjalannya zaman feodal saat berkuasanya dinasti Chou, para penguasa memiliki ahli-ahli militer sendiri-sendiri. Tetapi ketika feodalime ini runtuh maka para prajurit kehilangan kedudukan mereka dan menawarkan jasa mereka pada siapapun yang membutuhkan. Prajurit-prajurit ini dikenal dengan sebutan hsieh atau yu hsieh yang berarti “satria-kelana”. Kaum hsieh ini sering diangkat dari kelas-kelas bawah yang membuat mereka tidak bisa menikmati kegemaran sosial seperti ritual-ritual dan musik. Hal itu dikarenakan kegemaran sosial itu hanya milik para aristokrat. Menurut mereka, semua kegemaran itu merupakan kemewahan yang tidak memiliki kegunaan praktis. Hal ini nantinya sangat berhubungan pada peniliaan ala Mo Tzo perihal yang baik dan yang tidak. Pengikut Mo Tzo atau Mohisme bukanlah sembarang satria-kelana. Satria-kelana biasanya terdiri dari orang-orang yang siap terjun dalam pertempuran asalkan mereka dibayar atau diberi anugerah oleh para raja feudal. Sedangkan para pengikut Mo Tzo sangat menentang perang penyerbuan. Menurut mereka, berperang dilakukan hanya dalam pertempuran yang semata-mata untuk mempertahankan diri. Mereka punya kode etik professional.  Konsep etika professional mereka juga terlihat dalam memahami jen dan yi yang menandakan kasih-semesta. Manusia jen dan menusia yi adalah orang-orang yang mempraktekan kasih semesta. Konsep ini berbeda dengan konsep Confusianisme yang memahami bahwa jen (rasa kemanusiaa) dan yi (rasa keadilan). Dengan adanya perbedaan itu maka kelompok Mo Tzu yang merupakan para hsieh lebih memiliki slogan “senang bersama dan menderita bersama”.  Kemudian Mo Tzu memperluas pemahaman ini dengan mengatakan bahwa setiap orang yang berada dalam dunia seyogianya sama-sama mengasihi setiap orang lain tanpa adanya diskriminasi. Untuk menjelaskan hal itu agar lebih mudah dipahami, Mo Tzu mengajarkan kasih semesta dengan mengambil contoh tentang prinsip-prinsip yang ada di alam semesta. 


Menurutnya, ada dua prinsip yaitu “diskriminasi dan prinsip “semesta”. Orang yang berpedoman pada prinsip diskriminasi mengatakan: merupakan sesuatu yang absurd bagiku untuk memerhatikan teman-temanku seperti memperhatikan diriku sendiri, dan untuk menjaga orang tua mereka seperti aku menjaga orang tuaku sendiri”. Akibat pemahaman ini adalah orang-orang tidak berbuat banyak untuk teman-temannya. Sedangkan prinsip semesta mengatakan: “aku harus memerhatikan teman-temanku seperti aku memerhatikan diriku sendiri, dan menjaga orang tua mereka seperti menjaga orang tuaku sendiri”. Akibat dari pemahaman ini adalah ia melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk teman-temannya. Lalu dengan mengutarakan kedua prinsip ini, Mo Tzu bertanya: “manakah yang benar di antara dua prinsip itu?”

Untuk menetapkan mana yang benar dan mana yang salah maka perlu pertimbangan dan penilaian. Penilaian itu memiliki dasar yaitu bisa atau tidak diverifikasi, dan bisa atau tidak diaplikasikan. Prinsip yang terukur dan betul seharusnya “didasarkan pada Kehendak Langit dan kehendak para arwah serta pada tindakan –tindakan para raja bijaksana masa lampau (saya tidak tau apakah yang dimaksud “Kehendak Langit” sama dengan hubungan “vertikal”). Kemudian, apakah prinsip itu bisa diverifikasi oleh indra pendengaran dan penglihatan orang kebanyakan. Kemudian, apakah prinsip itu bisa diaplikasikan dengan menyertakannya dalam pemerintahan serta melakukan pengamatan apakah bermanfaat bagi negeri dan rakyat. Standar yang paling utama adalah “bermanfaat bagi Negara dan rakyat”. 

Menurut Mo Tzu dalam “Kasih Semesta”, tugas manusia yang memiliki rasa kemanusiaan adalah memberi manfaat bagi dunia dan melenyapkan kesengsaraan. Diantara seluruh bencana di dunia, manakah bencana yang terbesar? Mo Tzu menjawab: bencana yang terbesar adalah ketika adanya serangan dari Negara-negara besar ke Negara-negara kecil, gangguan terhadap dinasti-dinasti kecil oleh dinasti-dinasti besar, tekanan terhadap pihak yang lemah oleh pihak yang kuat, sikap sewenang-wenang terhadap yang jumlahnya sedikit oleh yang jumlahnya lebih banyak. Penipuan terhadap orang yang berpikiran sederhana oleh orang yang berpikiran picik, dan penghinaan terhadap orang biasa oleh orang terhormat. Ini merupakan kemalangan-kemalangan dunia. 

Masih timbul pertanyaan. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Apakah semua itu terjadi karena sikap mengasihi terhadap yang lain dan memberi manfaat kepada yang lain? Tentu kita akan menjawab “bukan karena demikian”. Tentu kita akan mengatakan bahwa semuanya itu terjadi karena adanya sikap membenci kepada yang lain dan sikap merugikan kepada orang lain. Jika demikian, orang-orang yang membenci kepada orang lain dan merugikan orang lain, kita memasukkan mereka ke golongan yang bersikap “diskriminasi” atau yang bersikap “semesta”? Kita akan menjawab: “mereka masuk dalam kelompok “diskriminasi”. Dengan demikian maka penyebab bencana-bencana utama di dunia ini adalah prinsip “diskriminasi”. Jawabannya pun kita peroleh yaitu prinsip “diskriminasi” adalah salah. 
Itu belum menjadi jawaban terakhir sebab masih ada pertanyaan. Jika menjadikan sikap semesta sebagai pengganti sikap diskriminasi, apa yang menjadi alasan ketika kita mengganti sikap diskriminasi dengan sikap semesta? Jawabannya adalah ketika setiap orang memandang Negara-negara lain sebagaimana ia memandang negaranya sendiri, maka siapakah yang akan menyerang Negara-negara lain ini? Pihak-pihak lain akan dipandang sebagai dirinya sendiri. Ketika setiap orang  memandang memandang kota-kota orang lain sebagaimana ia memandang kotanya sendiri, maka siapakah yang akan merebut kota-kota yang lain ini? Pihak-pihak lain akan dipandang sebagai dirinya sendiri. Dengan kalimat saya yang dihubungkan dengan keadaan sekarang, jika setiap orang bisa menghargai orang lain, maka siapakah yang akan merusak keharmonisan itu? Tentu yang diutarakannya itu lebih mengarah pada pandangan ideal. Sementara jika kita hubungkan pada kenyataan sekarang, maka belum tentu hal itu bisa terjadi, bahkan ajaran Yesus tentang mengasihi orang lain harus terus dikibarkan mengingat dunia yang terus bergejolak dan penuh keserakahan. 
Mo Tzu melanjutkan, bila Negara-negara dan kota-kota tidak saling menyerang dan saling merebut satu sama lain, dan bila kaum-kaum dan individu-individu tidak saling mengganggu dan saling merugikan satu dengan yang lain, apakah hal itu suatu bencana  atau suatu manfaat bagi dunia? Tentu kita akan mengatakan bermanfaat. Apabila kita mempertimbangkan asal-mula berbagai macam manfaat tersebut, maka bagaimanakah hal itu terjadi? Apakah hal itu terjadi karena sikap benci terhadap yang lain dan sikap merugikan terhadap orang lain? Kita tentu akan mengatakan bukan demikian itu. Kita mestinya mengatakan bahwa hal itu terjadi karena ada sikap saling mengasihi satu dengan yang lain dan sikap tidak merugikan satu dengan yang lain. Jika kita golongkan orang-orang di dunia yang memiliki sikap mengasihi kepada yang lain dan sikap memberi kepada manfaat kepada yang lain, apakah kita akan menyebut mereka bersikap “diskriminasi” atau bersikap “semesta”? Kita tentu akan menjawabnya dengan mengatakan bersikap “semesta”. Maka dalam hal ini, penyebab kemanfaatan utama dalam dunia adalah sikap “semesta”. Oleh karena itu prinsip “semesta” adalah benar. 

Dengan semua pertanyaan dan jawaban itu maka prinsip kasih semesta adalah benar secara mutlak. Orang-orang yang mempunyai rasa kemanusiaan tugasnya adalah menghasilkan manfaat bagi dunia dan menghilangkan malapetaka terhadapnya. Prinsip kasih semesta  harus dijadikan standar tindakan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Bila setiap orang di dalam dunia bertindak sesuai dengan standar ini maka “telinga yang peka dan mata yang tajam akan respons untuk melayani satu sama lain, anggota-anggota badan akan terasa diperkuat untuk membantu satu sama lain, dan orang-orang yang tahu tentang prinsip yang layak akan mengajarkannya kepada yang lain dengan tak kenal lelah. Dengan cara demikian, orang-orang lanjut usia  dan para duda akan mendapat sokongan dan perawatan untuk menghabiskan masa tua mereka dan orang-orang yang masih muda serta lemah dan anak-anak yatim akan mempunyai tempat yang mendukungnya untuk bertumbuh.  Bila kasih semesta diambil sebagai standar, maka konsekuensinya adalah muncul hal-hal yang bermanfaat. 

Bukankah di dalam kekristenan juga menginginkan hal yang demikian terjadi dalam dunia ini? Bukankah panggilan gereja sepanjang sejarah memang untuk itu? Bukankah tujuan Diakonia Transformatif untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia dengan hadirnya sesuatu yang bermanfaat bagi dunia yaitu ditolong, didampingi, menunjukkan keadilan dan damai sejahtera? Jika demikian adanya, Gereja juga perlu belajar dari cara Yesus mengaplikasikan nilai-nilai kebenaranNya dan juga belajar dari orang yang “melihat” dunia selebih jauh yaitu Mo Tzu. Dan juga jika ingin menerapkan berbagai macam diakonia maka perlu didukung oleh pemahaman dasar, “apakah manfaat Diakonia? Prinsip apa yang digunakan?”(Salam-BBL)
FUNG YU-LAN

Tidak ada komentar:
Write komentar